ADA APA DIBALIK ANGKA TUJUH (7)?, WHAT’S BEHIND SEVEN FIGURES?

Tujuan:

Hanya untuk mengupas dan membahas seberapa jauh angka tujuh berperan dalam kehidupan manusia. Pembaca berhak memutuskan dan menilai apa saja tentang isi dari tulisan ini.

Tujuh adalah angka dalam sistem bilangan, yang terdapat antara angka enam (6) dan delapan (8).

Tujuh dalam romawi: VII  dan Tujuh dalam Arab: 7

Air murni bersifat netral, dengan pH-nya pada suhu 25 °C ditetapkan sebagai 7, 0 Larutan dengan pH kurang daripada tujuh disebut bersifat asam, dan larutan dengan pH lebih daripada tujuh dikatakan bersifat basa atau alkali. Pengukuran pH sangatlah penting dalam bidang yang terkait dengan kehidupan atau industri pengolahan kimia seperti kimia, biologi, kedokteran, pertanian, ilmu pangan, rekayasa (keteknikan), dan oseanografi. Tentu saja bidang-bidang sains dan teknologi lainnya juga memakai meskipun dalam frekuensi yang lebih rendah. Nilai pH air dan larutan netral (bukan asam maupun basa).

Nitrogen atau zat lemas adalah unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki lambang N dan nomor atom 7. Biasanya ditemukan sebagai gas tanpa warna, tanpa bau, tanpa rasa dan merupakan gas diatomik bukan logam yang stabil, sangat sulit bereaksi dengan unsur atau senyawa lainnya. Dinamakan zat lemas karena zat ini bersifat malas, tidak aktif bereaksi dengan unsur lainnya.

Nitrogen mengisi 78,08 persen atmosfir Bumi dan terdapat dalam banyak jaringan hidup. Zat lemas membentuk banyak senyawa penting seperti asam amino, amoniak, asam nitrat, dan sianida.

Cahaya matahari adalah cahaya polikromatik (terdiri dari banyak warna). Warna putih cahaya matahari sebenarnya adalah gabungan dari berbagai cahaya dengan panjang gelombang yang berbeda-beda. Mata manusia sanggup mencerap paling tidak tujuh warna yang dikandung cahaya matahari, yang akan terlihat pada pelangi: merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu.

Tujuh Keajaiban Dunia biasanya menunjuk ke Tujuh Keajaiban Dunia Kuno. Pencetus awal daftar ini adalah Antipater Sidon, yang membuat daftar struktur dalam sebuah puisi (sekitar 140 SM).

“Aku telah melihat tembok Babilonia yang agung yang di atasnya terbentang jalanan untuk kereta-kereta perang, dan patung Zeus di Alfeus, dan taman-taman gantung, dan Kolosus Matahari, dan karya besar yang membangun piramida-piramida tinggi, serta kuburan yang besar dari Mausolus; namun ketika aku melihat rumah Artemis yang menjulang ke awan-awan, yang lain itu semuanya kehilangan keindahannya, dan aku berkata, ‘Tengoklah, selain Olympus, Matahari tidak pernah lagi melihat apapun yang sedemikian agung.’” (Antipater, Greek Anthology IX.58)

Sejarawan Herodotus, orang pintar Callimachus dari Kirene (kira-kira 305 SM – 240 SM), teknisi Filon dari Bizantium telah membuat daftar yang lebih awal namun tulisan-tulisan ini tidak ada yang terselamatkan, kecuali hanya sebagai referensi

Enam set Tujuh Kejaiban

Ada beberapa pertentangan di antara sumber mengenai Tujuh Keajaiban Dunia, dan dengan alasan yang cukup baik. Setiap zaman telah menambah beberapa pencapaian dan penemuan, memberikan kita banyak keajaiban untuk dilihat dan dikagumi. Banyak orang beranggapan ada enam set Keajaiban Dunia.

  1. Keajaiban Dunia Kuno
  2. Keajaiban Dunia Pertengahan
  3. Keajaiban Dunia Alami
  4. Keajaiban Dunia Bawah Air
  5. Keajaiban Dunia Modern
  6. 7 Keajaiban Dunia Baru

Keajaiban Dunia Kuno

Tujuh Keajaiban Dunia Kuno, dengan Pharos Aleksandria, berasal dari zaman Pertengahan. Menurut daftar Antipater tertulis Tembok Babylon dan bukan menara lampu. Dalam urutan sesuai huruf:

  1. Colossus Rodos — patung Helios yang sangat besar, dibuat sekitar tahun 292280 SM oleh Chures, sekarang Yunani.
  2. Taman Gantung Babilonia — dibuat oleh Nebukadnezar II, sekitar abad ke-8 SMabad ke-6 SM, sekarang Irak.
  3. Mausoleum Mausolus — makam Mausolus, satrap Persia, Caria, dibuat pada tahun 353351 SM, di kota Halicarnassus, sekarang Bodrum, Turki.
  4. Mercusuar Iskandariyah — mercusuar dibangun sekitar tahun 270 SM di pulau Pharos dekat Alexandria pada masa pemerintahan Ptolemeus II oleh arsitek Yunani Sostratus, sekarang Mesir.
  5. Piramida Giza — dipakai sebagai makam untuk firaun Mesir Khufu, Khafre, dan Menkaure, sekarang Mesir. Dibangun pada dinasti ke-4 Mesir (sekitar 2575– sekitar 2465 SM)
  6. Patung Zeus — berada di Olympia, dipahat oleh pemahat Yunani Fidias, kira-kira 457 SM sekarang Yunani.
  7. Kuil Artemis550 SM, di Efesus, sekarang Turki.
Tujuh Keajaiban Dunia Kuno
Piramida Agung Giza
Taman Gantung Babilonia
Patung Zeus di Olympia
Kuil Artemis di Efesus
Mausoleum Mausolus
Colossus Rodos
Mercusuar Iskandariyah

Dua dari masing-masing keajaiban dunia sekarang berada di wilayah Yunani, Mesir, dan Turki, dan satu berada di Irak. Satu satunya keajaiban dunia kuno yang masih bertahan adalah pembuatan pertama, Piramid Giza. Keajaiban dunia kuno yang berumur paling pendek adalah Colossus of Rhodes, yang hanya bertahan selama 56 tahun sebelum dihancurkan oleh gempa bumi. Ada beberapa perdebatan tentang apakah Taman Gantung Babilonia pernah dibangun.

Keajaiban Dunia Pertengahan

Setelah keruntuhan peradaban kuno, ingatan akan keajaiban dunia kuno yang hancur perlahan menghilang. Kaum cerdik-pandai dan filsuf meninjau ulang dan menulis kembali daftar keajaiban, menghilangkan yang lama dan menggantikannya dengan “yang baru dibuat” sementara kisah mereka menyebar. Setelah beberapa abad sebuah konsensus muncul dalam bentuk daftar Tujuh Keajaiban Pikiran Pertengahan:

  1. Katakombe Kom el Shoqafa
  2. Colosseum
  3. Tembok Besar China
  4. Hagia Sophia
  5. Menara miring Pisa
  6. Menara porselen Nanjing (Nanjing, Cina)
  7. Stonehenge (Skotlandia, Britania Raya)

Keajaiban alam

Sama dengan daftar keajaiban dunia lainnya, tidak ada kesepakatan akan daftar tentang keajaiban alam dunia. Salah satu dari daftar keajaiban dunia alami disusun oleh CNN:

  1. Grand Canyon
  2. Great Barrier Reef
  3. Pelabuhan Rio de Janeiro
  4. Mount Everest
  5. Northern Lights
  6. Volkano Paricutín
  7. Air terjun Victoria

Keajaiban bawah air

Meskipun keajaiban dunia bawah laut adalah keajaiban dunia alami dan tidak dibuat oleh manusia; keajaiban di bawah ini bisa berada di dalam laut, di bawah permukaan laut, atau dikelilingi oleh perairan.

  1. Karang Penghalang Belize
  2. Deep-Sea Vents
  3. Kepulauan Galapagos
  4. Karang Penghalang Besar
  5. Danau Baikal
  6. Laut Merah Utara
  7. Palau

Keajaiban modern

Banyak orang sudah menyusun daftar Keajaiban dunia modern (Sekarang). Daftar yang paling umum adalah:

  1. Terowongan Channel (Britania Raya dan Perancis)
  2. Menara CN (Toronto, Kanada)
  3. Empire State Building (New York, Amerika Serikat)
  4. Jembatan Golden Gate (San Francisco, AS)
  5. Dam Itaipu (Brazil dan Paraguay)
  6. Borobudur (Indonesia)
  7. Terusan Panama (Panama)

7 Keajaiban baru

Sebuah projek tentang 7 keajaiban dunia secara luas. Pada tanggal 7 Juli 2007 terpilih 7 Keajaiban dunia baru dengan suara terbanyak[2] yaitu:

Keajaiban Simbol Lokasi Gambar
Tembok Besar Tiongkok Perlindungan, Terus Menerus Cina
Petra Teknik, Perlindungan Yordania
Patung Kristus Penebus Penerimaan, Keterbukaan Rio de Janeiro, Brazil
Machu Picchu Komunitas, Dedikasi Cuzco, Perú
Chichén Itzá Pemujaan, Ilmu Pengetahuan Yucatán, Mexico
Colosseum Kesenangan, Penderitaan Roma, Italy
Taj Mahal Cinta, Hasrat Agra, India
Piramid Giza
(Kandidat Kehormatan, karena satu-satunya dari Tujuh Keajaiban Dunia Kuno yang masih ada
Tidak Punah, Keabadian Kairo, Mesir

Angka keberuntungan

Tujuh adalah salah satu dari beberapa angka keberuntungan

7

8

9

Sistem penamaan yang menggunakan angka tujuh

Jumlah kitab dalam perjanjian baru adalah 27 (dibaca dua puluh tujuh – sering disingkat menjadi dua tujuh) adalah sebuah angka, sistem bilangan, dan nama dari glyph yang mewakili angka tersebut. Angka ini merupakan bilangan asli setelah 26 dan sebelum 28

PEMAKAIAN DAN MAKNA ANGKA 7 DAN 70 DALAM ALKITAB

Tuhan menciptakan dunia selama enam (6) hari, dan pada hari ke tujuh (7) Dia berhenti, beristirahat dan menyucikannya. Baca kitab kejadian, tentang penciptaan.

Hari ketujuh dalam alkitab disebutkan sebagai hari sabat dan hari perhentian yang harus disucikan oleh seluruh umat manusia.

Hari ketujuh dalam kalender adalah hari sabtu.

(1) Dalam Alkitab angka 7 dan “tujuh kali” sering dipakai seperti di atas, yaitu dengan arti “sesuatu yang lengkap” atau “keseluruhan”, bahkan pada waktu jumlah sebenarnya berbeda. Lihat misalnya Ams 6:31; 26:16; 26:25; Ul. 7:1 ; dan 3 = 19 (jelas dari Kej 15:19-21 bahwa jumlah sebenarnya adalah 10).

(2) Angka 7 dan 70 dipakai dengan arti itu dalam Perjanjian Baru juga. Misalnya, Mat 18:22, dan berkali-kali dalam kitab Wahyu.

(3) Angka 7, “tujuh kali” dan “tujuh puluh tahun” sering dipakai berhubungan dengan hukuman. Lihat misalnya, Kej 4:15, 24; Im 26:18, 21, 24, 28; Mzm 79:12; Yes 23:15, 17. Dalam semua pemakaian tersebut artinya tidak hurufiah.

Maka pemakaian dan makna angka 7 dan 70 dalam Alkitab juga mendukung pengertian simbolis untuk angka-angka dalam Daniel 9:24-27.

Selain itu, bila dipakai berhubungan dengan waktu, jumlah 7 dan tujuh kali tujuh mempunyai konotasi khusus dalam Alkitab, konotasi yang berhubungan erat dengan perjanjian (covenant) Tuhan dengan umatNya. Konotasi itu adalah konotasi sabat. Tuhan menentukan agar umatNya merayakan hari sabat setiap minggu, yakni setiap hari ke-7, sabat untuk tanah setiap tahun ke-7, dan sabat Tahun Yobel setiap 7 kali 7 tahun, yakni pada tahun ke-50. Merayakan sabat, fungsi dan maknanya, berkat dan kutuk yang didatangkannya, semua ditetapkan oleh Tuhan sendiri. Dan sabat-sabat itu harus dirayakan terus-menerus. (Lihat Kej 2:2; Kel 20:8-11; 31:12-17; 34:21; 35:2,3; Im 23:3; Bil 15:32-36; Yes 56:4,6; Yer 17:21-27; Yeh 20:12,20; Kel 23:10-12; Im 25:1-7, 8-55; Ul 15:1-18; Yer 34:8-9,12-14; Yeh 46:17; Yes 61:1-2; 49:8-9.)

Beberapa prinsip atau makna sabat yang dapat menolong kita mengerti Dan 9:24-27 ialah sebagai berikut:

(1) Sabat menyatakan bahwa suatu fase dalam maksud dan pekerjaan Tuhan sudah selesai (Kej 2:2; Ul 5:12-15)

(2) Sabat menyatakan akan dimulai suatu fase baru dalam maksud dan pekerjaan Tuhan (minggu baru, masa enam tahun yang baru, hidup baru setelah dibebaskan atau ditebus dari Mesir).

(3) Sabat mengingatkan akan pekerjaan Tuhan yang menciptakan dan memberi hidup kepada umatNya, juga menyelamatkan dan membebaskan mereka (Ul 5:12-15).

(4) Tahun Sabat dan Tahun Yobel disebut juga sebagai tahun pembebasan dan tahun penebusan.

(5) Pada tahun itu, umat Tuhan kembali kepada kaum keluarga dan tanah mereka dikembalikan kepada pemilik aslinya. Hal-hal tersebut menyatakan pelepasan, penebusan dan suatu permulaan baru.

Dalam II Taw 36:21 masa 70 tahun orang-orang Yehuda tertawan di Babel disebut sebagai masa tanah itu “menjalani sabat” dan “akibat dilalaikannya tahun-tahun sabatnya.” Hal yang persis sama dikatakan dalam Im 26:33-35 mengenai hukuman yang akan dijatuhkan Tuhan atas orang-orang Israel jika mereka tidak taat kepada Tuhan. Maka masa 70 tahun penawanan di Babel dianggap sebagai 70 sabat. Sebab sabat untuk tanah seharusnya dirayakan setiap tahun ke-7, maka 70 sabat dapat juga disebut sebagai 70 “tujuh”. Konsep tersebut pasti tidak asing bagi Daniel.

Pengertian kita mengenai ayat 24-27 sangat dipengaruhi, bahkan ditentukan, oleh pengertian kita terhadap bahasa Ibrani ayat 25, khususnya mengenai tanda-tanda baca yang tepat yang dipakai di antara “tujuh kali tujuh” dan “dan enam puluh dua kali tujuh”, dan di antara “enam puluh dua kali tujuh” dan “kota itu”. Dalam bahasa Ibrani tidak ada perkataan “masa” atau “lamanya”. Dalam Alkitab bahasa Indonesia terjemahan lama di antara “tujuh sabat” dan “dan enam puluh dua sabat” tidak ada tanda baca sama sekali, dan setelah “enam puluh dua sabat” dipakai dua titik. Maka pengertiannya berbeda sekali dengan pengertian untuk ayat ini dalam Alkitab bahasa Indonesia terjemahan baru. Tanda baca yang dipakai dalam Alkitab bahasa Inggris NIV (=New International version) dan banyak terjemahan lain adalah sama dengan yang dipakai dalam bahasa Indonesia terjemahan lama itu, hanya dalam NIV dipakai titik setelah “enam puluh dua ‘tujuh’”.

Dalam bahasa Ibrani tidak dipakai tanda-tanda baca yang sama dengan yang dipakai oleh kita. Bahkan dalam naskah asli tidak dipakai tanda baca sama sekali. Tanda-tanda baca yang dipakai sekarang pada teks Ibrani ditambahkan mulai antara abad ke-7 dan abad ke-10 AD. Jika dilihat hanya kata-kata dalam teks Ibrani, maka terjemahan yang tepat untuk ayat 25 adalah:

“Maka ketahuilah dan pahamilah: dari keluarnya firman agar memulihkan dan membangun Yerusalem sampai (kedatangan) seorang yang diurapi, seorang pemimpin/penguasa (ada) “tujuh” tujuh kali dan “tujuh” enam puluh dua kali. Itu akan dibangun kembali dengan tanah lapang/jalan dan parit, tetapi dalam waktu kesulitan/penindasan.”

Tanda baca dan pembagian kalimat yang berbeda dipakai dalam Alkitab bahasa Indonesia terjemahan baru, kemungkinan besar oleh karena tanda baca ‘atnah yang dipakai di bawah kata “tujuh kali” dalam bahasa Ibrani. Tetapi tanda baca itu tidak berfungsi sebagai pemisah dan tidak harus menyatakan adanya suatu “stop” sehingga perlu kita pakai titik atau dua titik di tempat itu. Tanda baca tersebut dipakai dalam setiap ayat perjanjian Lama dan diletakkan pada tempat yang dirasa tepat untuk memudahkan pembacanya agar ayat itu dibacakan dengan jelas. Biasanya tempat itu merupakan tempat jeda. Tetapi sering kali jeda itu singkat sekali sehingga dalam terjemahan bahasa Indonesia dipakai hanya koma atau tidak dipakai tanda baca sama sekali di tempat ‘atnah. Misalnya, dalam 9:2 setelah “kumpulan Kitab” dan dalam 9:6 setelah “bapa-bapa kami” tidak dipakai tanda baca padahal dalam bahasa Ibrani dipakai ‘atnah; dalam 9:5 setelah “memberontak”, 9:20 setelah “Israel”, dan 9:24 setelah “kekal” dipakai koma, saja, dan sifat atau fungsi koma itu tidak berbeda dengan sifat koma-koma lain dalam ayat-ayat itu. Maka jelas adanya ‘atnah di bawah “tujuh kali” dalam Dan 9:25 tidak berarti bahwa harus dipakai tanda baca apapun di tempat itu.

Perlu kita ingat bahwa fungsi tanda baca dalam bahasa Ibrani ialah untuk menolong orang yang membacakan firman Tuhan supaya ia membacakannya dengan betul dan supaya pendengar-pendengarnya dapat mendengar dan memahaminya dengan tepat. Karena itu, kadang kala ‘atnah dipakai di bawah kata pertama dari dua kata yang mirip lafalannya, yaitu supaya pembaca membacakannya dengan tepat dan terang. Rupa-rupanya ‘atnah yang dipakai dalam Dan 9:25 ini berfungsi demikian sebab dipakai di bawah kata kedua dari empat kata yang mirip dalam lafalannya, dan di mana kata pertama, kedua dan ketiga berarti “tujuh”.

Berdasarkan keterangan tersebut jelas terjemahan di atas lebih dapat diterima dari pada terjemahan yang tertulis dalam Alkitab bahasa Indonesia, terjemahan baru.

Angka tujuh dalam kitab Daniel 9

Peristiwa yang diceritakan dalam pasal 9 terjadi pada tahun pertama pemerintah Darius, keturunan orang Media, atas kerajaan orang Kasdim (Babel). Kerajaan Babel dikalahkan oleh kerajaan gabungan Media-Persia pada tahun 539 SM. Maka tahun pertama pemerintahan Darius itu adalah tahun 539/538 SM. Pada tahun tersebut Daniel memperhatikan bahwa dalam firman Tuhan yang disampaikan melalui nabi Yeremia tertulis bahwa “jumlah tahun yang … akan berlaku atas timbunan puing Yerusalem” adalah tujuh puluh tahun. Jika kita lihat apa yang tertulis dalam kitab Yeremia, maka terlihat ia mengatakan bahwa “seluruh negeri ini akan menjadi reruntuhan dan ketandusan, dan bangsa-bangsa ini akan menjadi hamba kepada raja Babel tujuh puluh tahun lamanya. Kemudian sesudah genap ketujuh puluh tahun itu, maka Aku akan melakukan pembalasan kepada raja Babel dan kepada bangsa itu ….” (Yer 25:11-12) dan “apabila telah genap tujuh puluh tahun bagi Babel (sebagai pengusaha atas mereka), barulah Aku memperhatikan kamu. Aku akan menepati janjiKu itu kepadamu dengan mengembalikan kamu ke tempat ini” (Yer 29:10).

Meskipun tanah Yehuda mulai menjadi reruntuhan dan tandus pada tahun 597 SM yaitu sewaktu Nebukadnezar (raja Babel) mengangkut raja Yoyakhin dan orang-orang terbaik dari masyarakat Yehuda ke dalam pembuangan Babel (2 Raj 24:8-17), dan baru pada tahun 587/6 SM kota Yerusalem, termasuk Bait Allah, diruntuhkan dan dijadikan timbunan puing, yaitu waktu raja Zedekia dikalahkan dan sisa orang Yehuda diangkut ke dalam pembuangan (2 Raj 24:18; 25:21) namun bangsa Yehuda sudah menjadi hamba kepada raja Babel sejak Nebukadnezar mengalahkan mereka pada tahun 605 SM (Dan 1:1-2). Pada tahun itulah Daniel dibawa ke Babel.

Karena Daniel melihat bahwa Tuhan sudah melakukan pembalasanNya atas kerajaan Babel sesuai dengan firmanNya, lagipula itu sudah berlalu hampir tujuh puluh tahun sejak bangsanya menjadi hamba kepada Babel serta ia dibawa ke Babel, maka Daniel mulai berdoa dan memohon kepada Tuhan. Dalam doanya, yang tercantum dalam 9:3-19, Daniel mengakui dosa-dosa bangsanya sebagai umat Allah. Ia mengakui juga bahwa pengalaman mereka dibuang ke negeri-negeri lain adalah hukuman yang adil yang dijatuhkan atas mereka sesuai dengan firman Tuhan dalam Taurat Musa, dan bahwa Tuhan adalah benar didalam menghukum mereka demikian. Kemudian Daniel memohon agar Allah yang telah membawa umatNya keluar dari tanah Mesir, sesuai dengan belas kasihanNya, akan membiarkan murkaNya berlalu dari Yerusalem, kotaNya, demi diriNya sendiri agar ia berkenan kembali ke tempat kudusNya yang telah musnah Ia juga memohon agar Tuhan memperhatikan keadaan mereka serta doaNya, bukan berdasarkan jasa mereka tetapi berdasarkan kasih sayangNya yang berlimpah-limpah lalu Daniel berseru, “Ya Tuhan, dengarlah … ampunilah … perhatikanlah dan bertindak dengan tidak bertangguh.” Jadi inti permohonan Daniel kepada Tuhan adalah belas kasihan, pengampunan, pelepasan, dibawa kembali ke tanah air sendiri, serta pemulihan keadaan bangsanya, Yerusalem dan tempat kudus Allah di sana demi Tuhan sendiri.

Sementara Daniel berbicara dalam doa sebagaimana tertera di atas, malaikat Gabriel datang dan berbicara kepadanya. Gabriel memberitahu Daniel bahwa ketika ia mulai menyampaikan permohonannya keluarlah suatu firman (yaitu, keluar dari Allah karena Gabriel adalah utusan Allah), maka Gabriel datang justru untuk memberitahukan firman itu kepada Daniel. Firman tersebut merupakan jawaban Allah kepada doa dan permohonan Daniel (9:20-23). Firman itu adalah ayat 24-27. Memang ayat-ayat tersebut merupakan nubuat, namun pengertiannya tidak terlepas dari konteks dalam pasal 9 yang dijelaskan di atas ataupun konteks yang lebih luas, bahkan dapat dikatakan berakar di dalamnya.

Dalam ayat-ayat 24-27 dibicarakan beberapa masa. Dalam bahasa aslinya tidak dipakai kata “masa” tetapi dikatakan hanya “tujuh puluh ‘tujuh’”, “tujuh ‘tujuh’”, “enam puluh dua ‘tujuh’” dan “satu ‘tujuh”‘. Di antara para penafsir terdapat perbedaan pendapat mengenai Cara mengartikan angka-angka tersebut, yaitu apakah angka-angka itu harus diartikan secara harfiah menjadi 490 tahun, 49 tahun, 434 tahun dan 7 tahun, atau secara simbolis.

Sebagaimana sudah dijelaskan di atas, pengartian secara simbolis adalah sesuai dengan sifat kitab Daniel. Pasal 7 dan 8 berisi penglihatan yang harus diartikan dengan cara demikian. Tetapi untuk petunjuk yang lebih meyakinkan sebaiknya diselidiki dan dipertimbangkan pemakaian dan makna angka 7 dan 70, baik dalam karangan-karangan dari Timur Tengah Kuno maupun dalam Alkitab. Kedua pemakaian dan makna tersebut merupakan konteks atau latar belakang untuk memahami firman yang diberikan kepada Daniel ini.

Pemakaian dan makna angka 7 dan 70 dalam karangan-karangan Timur Tengah Kuno, khususnya di daerah Babel dan sekitarnya adalah sebagai berikut

(1) Angka 7 dan “tujuh kali” sering dipakai dengan arti “genap” atau “keseluruhan” tanpa dipandang jumlah sebenarnya. Misalnya, dalam sebuah prasasti Sumer tertulis mengenai “7 raja” yang melayani seorang raja lain, padahal jumlah raja itu lebih dari 13 orang. Demikian pula dalam surat-surat Amarna sering tertulis “tujuh kali dan tujuh kali” seseorang sujud di hadapan raja sebagai pernyataan penyerahan dan kesetiaannya yang sempurna kepada raja itu.

(2) “Tujuh hari” dan “tujuh tahun” juga dipakai dalam karangan mereka untuk menunjukkan suatu jangka waktu yang lengkap dan bukan dengan arti hurufiah.

(3) “Tujuh tahun” dipakai dengan arti kiasan dalam prasasti yang bersifat ramalan dari Babel, prasasti yang tentu diketahui oleh Daniel.

(4) “Tujuh puluh tahun” dianggap masa dewa-dewa menghukum kota atau daerah yang dimurkai mereka. Misalnya, dalam prasasti Esarhadon (raja Asyur) tertulis bahwa dewa Marduk menentukan Babel akan mengalami keruntuhan dan keadaan tandus selama 70 tahun karena murkanya kepada mereka, padahal waktu mereka dalam keadaan demikian bukan 70 tahun. yang dipentingkan adalah arti kiasannya sebagai masa hukuman oleh dewa.

Jelas pemakaian dan makna angka 7 dan 70 di dunia Timur Tengah Kuno merupakan konteks yang mengizinkan, bahkan mendukung, pengertian simbolis untuk angka-angka itu dalam Daniel 9:24-27.

MAKNA TUJUH (7) DALAM AL-QURAN

Untuk mengenal sifat (kelakuan) Allah ada 7 (tujuh) sifat Zat Allah yang wajib diketahui, sedangkan keadaan sifat dari Zat Allah itu banyaknya diluar jangkauan manusia banyaknya, sedang yang dapat terjangkau dan dapat dirasakan hanyalah 7 (tujuh) sifat yakni :

1. Kodrat, artinya Kuasa.
2. Iradat, artinya Kehendak.
3. Ilmu, artinya Mengetahui.
4. Hayat, artinya Hidup.
5. Sama’ artinya Mendengar.
6. Bashar, artinya Melihat.
7. Kalam, artinya Berkata-kata.

Tujuh sifat yang terasa pada diri kita itu disebut MA’ANI. Ma’ani artinya makna (sifat yang hanya dimiliki oleh manusia), sifat ma’ani ini yang berjumlah 7 (tujuh) ini hanyalah berada pada Adam beserta keturunannya, tegasnya hanya ada pada Khalifah Allah (manusia).

• Kenapa tidak ada pada binatang?, Karena binatang tidak ada berilmu.
• Kenapa tidak ada pada malaikat?, Karena malaikat tidak memiliki nafsu.

7 sifat (bathiniah) itulah ruh…….

SAPTA PADU (7 BERSATU), hamba yang dimaksud adalah 7 sifat, bukan hamba “Muhammad (rasa) “.hamba disini adalah 7 sifat kalau rasa hanya MENYAKSIKAN saja. RASA bukan Nur Muhammad/Muhammad tapi muhammad/sifat didalam RASA.Kadang hamba itu sbg SIFAT dan terkadang juga sbg NUR.

Makna angka 7 sendiri pernah diungkapkan juga melalui sebuah buku “Kecemerlangan angka 7 dalam al-Quran” karangan Abdudaim al-Kahil, seorang penulis Syiria, dicetak oleh komite trofi internasional al-Quran Dubai.

Dilaporkan bahwa Abduddaim al-Kahili dalam menulis buku ini diperlukan 10 tahun untuk melakukan penelitian. Dalam buku ini, ia berhasil membuktikan bahwa al-Quran memiliki sistem angka. Kunci dari rentetan angka itu adalah angka 7 dan turunannya. Ia berkata: “Setelah mengkaji setiap ayat, jumlah huruf, jumlah kata, jumlah ayat dan posisi ayat tersebut dalam sebuah surat akan terlihat bahwa angka-angka yang muncul telah diperhitungkan dengan matang. Akhirnya, yang bakal muncul angka tujuh dan turunannya.

Ia menambahkan: “Angka tujuh dalam al-Quran sebanyak 27 kali disebut. Angka pertama yang disebutkan oleh Allah dalam al-Quran adalah angka 7”. Antara surat Baqarah, pertama kalinya disebutkan angka 7, dan surat Naba’, di mana angka tujuh terakhir disebutkan dalam al-Quran, dipisahkan oleh 77 surat”. Selain membahas masalah itu, buku ini juga membicarakan rahasia angka 7 dalam hadis dan sejumlah kajian lain

Seorang Ibu dan seorang PNS yang sedang bertugas belajar di Universitas Al Azhar, Cairo. Bernama Rahima menjelaskan sebagai berikut:

I’jaz A(AlQuran, dari sisi bahasa, sastra, maupun hukum syari’atnya, serta ayat kauniyyah, ataupun tanziliyyahnya, termasuk dalam I’jaz hitungan(Al Jabar, istilah moderennya, Matematikanya). Tanasuk, tanasub, keindahan, kesesuaian kalimat perkalimat, awal dengan akhir dan seterusnya, dan seterusnya…ila malaanihayaah(sampai tiada batasnya).

Kita mencoba hanya satu bahasan saja dulu. Angka 7 dalam AlQuran.

Secara undang-undang AlQuran dan UU alam, kita lihat, bahwa angka 7 ini memiliki keutamaan tersendiri.

Kita lihat UU alam, langit dan bumi memiliki 7 lapisan.(Lihat Q.S Athalaq 12, Al Mulk 3)

Kita disuruh haji dengan 7x thawaf, 7 x Sa’i, dan melempar jumrah, untuk mengusir syetan dengan 7x lemparan.

Coba sama-sama kita lihat, bagaimana hakikat dari keutamaan dari angka 7 ini dalam AlQuran.

  1. Angka 7 adalah angka yang pertama sekali disebutkan didalam AlQuran, yaitu didalam Q.S AlBaqarah 29= Tsummastawaa ilassamaai fasawwa hunna SAB’A samawaatin, wahuwa bikulla syain ‘aliim.
  2. Angka 7 adalah angka yang paling banyak diulang dalam AlQuran setelah angka 1 (ahad) tentunya., ini menunjukkan betapa pentingnya angka ini.
  3. Awal surah dalam AlQuran adalah surah Al Fatihah, dia adalah semulia-mulia surah dalam AlQuran, itu sebabnya surah Al Fatihah dinamakan dengan sab’ul matsaani(silahkan dilihat kembali penafsiran surah ini), sementara jumlah ayatnya ada 7 ayat.
  4. Jumlah bilangan huruf abjad dalam bahasa Arab yang diturunkan oleh Allah ta’ala dalam AlQuran ada 28 huruf. Jumlah 28 ini adalah perkalian dari angka 7, yakni 7×4=28.
  5. Jumlah dari pintu neraka ada 7 pintu, subhanallah, kalimat jahannam dalam AlQuran jumlahnya ada 77 x, dan jumlah 77 ini adalah perkalian dari 7, yakni 7×11=77.

Kita lihat rincian dari kelima hakikat diatas:

1) Angka 7 adalah angka yang disebutkan pertama sekali didalam AlQuran. (Silahkan dilihat Q.S AlBaqarah 29 dan lihat terakhir sekali disebutkan pada surah Annaba 12), lihatlah tanasuq sungguh luar biasa, bahwa jumlah bilangan surah dari Albaqarah-Annaba ada 77 surah. Kita tahu sebelumnya angka 77 ini adalah perkalian yang habis dibagi 7.

Sungguh keajaiban luar biasa juga, bahwa jumlah bilangan ayat dari ayat pertama sampai akhir ayat berjumlah 5649 ayat, dan ini juga perkalian 7, yakni 7×807, atau 5649:7.

2) Awal dan akhir surah.

Surah pertama adalah surah AlFatihah, kita tulis dengan angka 1.

Adapun nomor terakhir dari surah dalam AlQuran adalah surah Annaas, yakni surah ke 114.

Sekarang coba kita lihat dan gabungkan kedua angka tersebut menjadi 1141, adalah hasil dari perkalian angka 7 yakni 1141=7×163. Didalam kamus Allah Ta’ala, tidak ada yang dinamakan sudfah=kebetulan, semua yang dialam ini telah diciptakan oleh Allah Ta’ala penuh perhitungan dan ketelitian, yang luar biasa, tidak ada satu makhlukpun yang dapat menandingi ilmuNya Allah Ta’ala tersebut, dalam sisi apapun.

Ahli Matematika, ingin berbangga degan ilmunya, cobalah buat ketelitian dan kehebatan sebagaimana hitungan yang dibuat oleh Allah tersebut(ini baru satu yang kita lihat dari sisi Math, gimana dengan ilmu lainnya?).

Cobalah kita lihat, ilmu sastra/balaghah, sungguh, tak ada satu makhlukpun, yang bisa menandingi kesastraan AlQuran. Coba deh baca surah Annaas saja. Diakhiri ayatnya dengan huruf “S”(Qul ‘audzubirabbinnaaS, MalikinnaaS…ila akhirihi). Lihat lagi surah-surah yang lain, sungguh luar biasa, enak dibaca, mudah dihafalkan dan indah nian lagunya.

Sungguh, demi Allah Ta’ala saya benar-benar merasakan keindahan bahasa AlQuran itu, Itu sebabnya, tiada lagu dan tiada surat cinta yang paling senang saya membacanya, mendengarkannya, memperhatikannya dan terus menerus meneliti dan mencari keistimewaan kandungannya, selain surat cinta dari Allah ta’ala yakni AlQuran.

Bagaimana dengan hakikat keutamaan lainnya? InsyaAllah akan kita sambung.

(Untuk informasi saja, saya menuliskan ini, berasal dari beberapa buku tentang keutamaan angka 7 ini), dan dari sisi angka, saya sudah menguji anak saya menchecknya sendiri. Alhamdulillah mereka bertiga saya suruh berhitung tanpa pena/kertas, tapi pakai otak masing-masing, siapa yang lebih duluan dapat.

Ternyata dari ketiga anak saya, yang termuda lebih dahulu mendapatkan jumlah yang tepat. Alhamdulillah, wajar saya lihat anak ini pernah diutus oleh sekolahnya untuk lomba SILN(Sekolah Indonesia Luar Negeri).

Bersambung, insyaAllah Ta’ala.

Wassalamu’alaikum. Rahima. Cairo 7 April 2010

Misteri angka 7 menurut al-qur’an  menurut Muhammad Ariful Hikami

Dari permasalahn dalam topik ini “Mengapa angka 7 selalu disebutkan dan menjadi angka yang sangat istimewa di dunia maupun dalam Al-Qur’an?” saya akan membahas permasalahan ini.
Tujuh (7) adalah angka yang memiliki nilai tersendiri dalam Al Qur’an. angka ini memiliki keistimewaan dalam berbagai rutinitas ibadah, alam semesta, dan juga sejarah. Ia disebut sebagai As Sab’u Al Masani (tujuh ayat yang senantiasa di ulang-ulang sepanjang zaman) dialah al Fatihah. Angka ini menunjukan keesaan Allah dan al-qur’an adalah kitabullah. Sebagaimana kita lihat, banyak sekali indikasi angka 7 di alam semesta dan kehidupan disekitar kita. Kita juga melihat tatanan yang sempurna dengan basis angka 7 Ketika menciptakan alam, Allah menjadikan langit berjumlah tujuh lapis, demikian juga bumi. Tanah dimana kita hidup terdiri dari tujuh lapisan, pada Thowaf di Kabah juga dilaksanakan tujuh kali putaran, Sujud juga harus bersentuhan tujuh anggota badan, setiap atom dari atom-atom alam semesta terdiri dari tujuh lapisan, bilangan hari juga ada tujuh hari, dan masih banyak lagi misteri tentang bilangan tujuh.
Penelitian yang telah saya lakukan tentang angka 7 :

Pertama : Allah menghiasi Udara ini dengan 7 Lapis Langit sebagaimana Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat An Naba’ ayat 12, “Dan Kami (Allah) jadikan di atas kamu tujuh (langit) yang kukuh.”

Ke-dua : Allah menghiasi langit itu dengan Tujuh Bintang. Tujuh Bintang yang di maksud adalah : Bintang Zuhal, Bintang Musytari, Bintang Marikh, Bintang Syamsu, Bintang Zahro, Bintang Athorid, dan Bintang Qomar. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al Hijr ayat 16, “Dan sungguh Kami telah menjadikan gugusan bintang
di langit dan Kami telah menghiasinya bagi orang-orang yang memandangnya.”

Ke-tiga : Allah telah menghiasi padang (tanah) yang lapang dengan Tujuh lapis Bumi. Rasulullah SAW pernah menjelaskan : Para penghuni Bumi Lapisan ke-7 adalah golongan Malaikat, Pada lapisan ke-6 di huni oleh Iblis dan para pembantunya, Pada lapisan bumi ke-5 di huni oleh setan-setan, Pada lapisan ke-4 di huni oleh ular-ular, Pada lapisan ke-3 di huni oleh kalajengking, pada lapisan ke-2 oleh jin-jin, dan Pada lapisan pertama adalah Manusia. Kemudian Allah menghias bumi itu dengan tujuh lautan.

Ke-empat : Allah telah menghiasi neraka dengan Tujuh Tingkatan, yaitu : Jahannam, Sa’ir, Saqor, Jahim, Huthomah, Ladhoo dan Haawiyah. Kemudian Allah menghiasi pula dari tiap-tiap neraka dengan tujuh Pintu. Sebagaimana Firman Allah dalam surat Al Hijr ayat 44, “Jahannam itu mempunyai tujuh pintu. tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka.”

Ke-lima : Allah menghiasi Al-Qur’an (Kitab suci umat Islam) dengan Tujuh surat panjang, Yaitu Al-Baqarah, Ali Imran, Al-Maaidah, An-Nissa’, Al ‘Araaf, Al An’aam dan Al-Anfaal atau At-Taubah. Kemudian Allah menghiasinya pula dengan Tujuh ayat Ummul kitab (Al-Fatihah/Pembuka kitab). Sebagaimana Firman Allah dalam Surat AL Hijr ayat 87, “Dan Sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Quran yang agung.”

Ke-enam : Allah menghias manusia dengan tujuh anggota badan, yaitu dua tangan, dua kaki, dua lutut, dan satu wajah. Kemudian Allah menghiasinya, dengan tujuh peribadatan, yaitu : dua tangan dengan doa, dua kaki dengan berkhidmat, dua lutut dengan duduk, dan wajah (muka) dengan sujud.

Ke-tujuh : Allah menghias umur manusia dengan tujuh tingkatan / tahapan. Pada masa baru lahir dinamakan tahapan rodhi’ (Menyusu), kemudian tahap fa thim (disapih), tahapan Shobiyyi (bayi), tahapan ghulam (masa kanak-kanak), kemudian tahapan syaab (pemuda/remaja), kemudian tahapan kuhul (yakni menginjak usia antara 30-50 tahun), dan menginjak tahapan Syaikh (masa tua).

Ke-delapan : Allah menghiasi dunia ini dengan tujuh negeri yang besar, yaitu : 1) Hindustan, 2) Hijaz, 3) Badiyah dan Kufah, 4) Irak, Syam,(Siria), Khurasan sampai Balakh, 5) Roma dan Armenia, 6) Negeri Ya’juj dan Ma’juj, dan 7) Cina Turkistan.

Ke-sembilan : Allah menghias tujuh negeri besar itu dengan tujuh hari, yaitu Sabtu, Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, dan Jum’at. Dan Allah memuliakan dengan ketujuh hari ini tujuh dari para Nabi, yaitu : Allah memuliakan Nabi Musa, as dengan hari sabtu, Isa Bin Maryam as dengan hari Ahad, Dawud, as dengan hari Senin, Nabi Sulaiman, as dengan hari Selasa, Nabi Ya’qub, as dengan hari Rabu, Nabi Adam, as dengan hari Kamis, dan Nabi Muhammad saw beserta umatnya dengan hari Jum’at.

Ke-sepuluh : Kita semua tahu bahwa jumlah ayat-ayat Al-Qur’an adalah Surah 114, dan jumlah ayat-ayat Al-Qur’an adalah ayat 6.236. Dan tentu saja bergantung pada Al-Quran yang ada di tangan kami, sebuah Quran Madinah. Turunnya Al Quran adalah 23 tahun.
Apa kaitannya angka tujuh dengan angka-angka diatas???
“Allah menurunkan Al-Qur’an 114 surat dalam 23 tahun”, angka yang dihasilkan dari deretan 23 dan 114 = 23.114 jumlah ini merupakan kelipatan dari tujuh (7) di kedua arah.
Ketika kita membaca angka dari kiri ke kanan adalah 23.114 = 7 × 3.302Ø
Ketika kita membaca nomor dari kanan ke kiri adalah 41.132 = 7 × 5.876Ø

ke-sebelas : “Allah menurunkan ayat-ayat Alquran 6.236 dalam 23 tahun”, Angka 23, 6.236 dan output dari deretan angka-angka ini adalah 236.236 yang merupakan kelipatan tujuh di kedua arah juga.
Ø Ketika kita membaca angka dari kiri ke kanan adalah 236.236 = 7 × 33.748
Ø Ketika kita membaca nomor dari kanan ke kiri adalah 632.632 = 7 × 90.376

Ke-dua belas : “bahwa Allah menurunkan Al Qur’an 6.236 ayat dan ditempatkan di 114 surat”, Gabungan dari 6.236 ayat dan 114 surat adalah 1.146.236, sejumlah tempat yang terdiri dari tujuh merupakan kelipatan dari tujuh di kedua arah.
Ketika kita membaca angka dari kiri ke kanan adalah 1146236 = 7 × 163.748Ø
Ketika kita membaca nomor dari kanan ke kiri adalah 6326411 = 7 × 903.773Ø

Ke-tiga belas : Kita semua tahu bahwa ayat pertama dalam Alquran adalah بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ dan ayat terakhir dalam Quran adalah (مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ), dari dua ayat ini kita akan mengetahui bahwa setiap huruf dari al Qur’an tidak ada tambahan dan pengurangan. Ini menunjukkan bahwa Al Qur’an dari awal sampai akhir adalah asli dan bena
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. Kalau di angkakan, kalimat bismillahirrohmanirrohim adalah sejumlah 6 (بسم), 3 (الله) ,4 (الرحمن), 6 (الرحيم) , kita dihadapkan dengan nomor: 6.643 dan jumlah ini merupakan kita dihadapkan dengan nomor: 6.643 dan jumlah ini merupakan kelipatan dari tujuh adalah sama dengan:
“6.643 = yang merupakan 7 × 949”

Ke-empat belas : apakah ini suatu kebetulan dan bagaimana untuk memastikan itu bukan suatu kebetulan? Jawabannya adalah bahwa kita beralih ke ayat lain dalam Alquran, dan menulis bahasa kata-kata: الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ مِنَ
Tetapi kalau diangkakan, ayat terakhir surat An Nas ini sebagai berikut: 5 1 5 2 atau 5.152 merupakan kelipatan dari tujuh juga, di mana kita dapat mengatakan:
“5.152 = yang merupakan 7 × 736”

Ke-lima belas : Kata pertama dalam Quran adalah (بسم) telah diulang dalam Al-Qur’an 22 kali, dan kata terakhir dalam Al-Quran adalah (الناس), telah diulang dalam Al-Quran 241 kali, kata-kata ini dalam angka sebagai berikut: 241 22 dan adalah membentuk untuk memiliki sejumlah 24.122 kelipatan dari tujuh, yaitu:
“24.122 = yang merupakan 7 × 3.446”

Ke-enam belas : Sesuai Asbabun Nuzul, kata pertama dalam yang turun adalah اقرأ dan kata terakhir (لا يظلمون) yang berarti: (Dan takutlah kalian akan hari ketika kalian akan di kembalikan kepada Allah dan kemudian setiap jiwa akan wafat dan mereka tidak akan dirugikan) [Al-Baqarah: 281], dan ketika mencari kata (اقرأ), kita menemukan itu diulang 3 kali dalam Quran, tetapi firman (يظلمون) terulang 15 kali. Kita menemukan angka-angka yang bahasa kata pertama diulang 15 kali dan kedua 3 kali dan jumlah yang dihasilkan deretan angka-angka ini adalah 315 merupakan kelipatan dari tujuh sebagai berikut: “315 = yang merupakan 7 × 45”

Ke-tujuh belas : pertama Surah dalam Al-Quran diberi nomor 1 dan Surah terakhir diberi nomor 114, dalam rangka untuk memastikan bahwa tidak ada lebih dan tidak kurang, kita menemukan referensi numerik dalam dua angka 1 dan 114, ketika kita digabungkan, kita mendapatkan nomor baru adalah 114 dan 1 yang merupakan kelipatan dari angka tujuh juga:
“1141 = yang merupakan 7 × 163”

Adapun manfaat yang dapat di petik dari angka 7 dalam tujuh hari :
Hari Ahad (hari ke-7) : Sebagian Ulama mengatakan bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan langit dan bumi pada hari ahad. Maka barang siapa yang hendak membangun sesuatu atau menanam, maka hendaklah pada hari Ahad.
Hari Senin : Hari Senin adalah hari Pelayaran & Perniagaan. Karena telah di jelaskan bahwa pada hari Senin terdapat 7 kelebihan yaitu :
1. Nabi Idris, as. Telah naik ke langit pada hari Senin
2. Nabi Musa, as. Telah pergi ke bukit Thursina pada hari senin untuk menerima wahyu,
3. Turunnya Dalil tentang ke-Esa an Allah
4. Lahirnya Rasulullah Muhammad saw
5. Malaikat Jibril, as. turun untuk pertama kalinya menjumpai Rasulullah
6. Semua amal perbuatan Umat di perlihatkan kepada Rasaulullah saw pada hari Senin
7. Wafatnya Rasulullah Muhammad saw
Oleh karena itu, barang siapa yang berlayar/mengadakan perjalanan maka baiknya lakukanlah pada hari senin.Dan juga Ketika menerangkan perihal kezhaliman dan mengambil tanah orang lain tanpa alasan, Rasulullah menjadikan angka tujuh sebagai simbol azab pada hari kiamat dan bersabda “Orang yang menzhalimi orang lain walau hanya beberapa jengkal tanah, akan dikalungkan kepadanya azab dari tujuh bumi”.(H.R. Bukhari dan Muslim)

Jadi, “Mengapa angka 7 selalu disebutkan dan menjadi angka yang sangat istimewa di dunia maupun dalam Al-Qur’an?” karena Angka ini punya kaitan dengan keajaiban Al Qur’an. Dan menunjukkan Al Qur’an adalah mukjizat terbesar. Ia tidak di tambah dan tidak di kurangi, baik ayat maupun hurufnya.

BAGAIMANA MENURUT ANDA?, SEBERAPA JAUH ANALISA ANDA AKAN “TUJUH”?, BIARLAH ITU MENJADI HAK PEMIKIRAN KITA MASING-MASING.

Demikian tulisan ini saya sampaikan.

Isi dan gaya penulisan disesuaikan dengan pemikiran penulis.

Adapun sumber-sumbernya diambil melalui media elektronik maupun cetak yang di baca langsung oleh penulis dan dituangkan kedalam tulisan.

Apabila ada kesalahan penulisan maupun kata saya mohon maaf. Kritikan dan masukannya sangat diharapkan.


Banyuwangi April 21, 2011

Gideon Suandi Simbolon


TERIMA KASIH

Leave a Reply